Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hubungan Filsafat Dengan Ilmu, Agama, dan Psikologi

Hubungan Filsafat Dengan Ilmu, Agama, dan Psikologi - Menurut Clarence I. Lewis, "filsafat merupakan proses refleksi dari bekerjanya akal" yang mengandung berbagai kegiatan atau masalah kehidupan. Suatu proses kegiatan atau masalah kehidupan dianggap sebagai pemikiran filsafat jika memiliki ciri-ciri:
  1. Universal → “the question tend to be very of general problem of the highest degree of generality”
  2. Tidak faktual = spekulatif → dugaan-dugaan dalam filsafat masuk akal tapi tidak berdasarkan bukti
  3. Bersangkutan dengan nilai → filsafat adalah usaha mecari pengetahuan (fakta-fakta berupa penilaian) – mempetahankan nilai (nilai sosial, keagamaan, budaya, dll) à memberikan patokan dan diskusi moral untuk manusia dari lingkungan sosialnya
  4. Berkaitan dengan arti → yang bernilai punya arti à filsuf mengungkapkan ide-idenya sarat arti dengan kalimat-kalimat logis dan bahasa yang tepat (ilmiah) untuk menghindahi kesalahan berpikir
  5. Mengandung implikasi atau akibat logis 

Hubungan Filsafat Dengan Ilmu, Agama, dan Psikologi_
image source: www.bu.edu
baca juga: Pengertian Filsafat dan Sejarah Filsafat Menurut Para Ahli

Beberapa Kegunaan Filsafat

1. Menambah ilmu pengetahuan

Filsafat , seperti semua bidang lain, tujuan utamanya adalah mendapatkan pengetahuan, yang membangun kesatuan dan sistem tubuh ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang dihasilkan filsafat merupakan hasil dari kajian kritis terhadap prasangka dan keyakinan. Dengan bertambahnya ilmu pengetahuan, filsafat mampu membantu menyelesaikan masalah dengan cara bijaksana

Perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan terdapat pada dasar pertanyaan yang dikaji serta pendekatan yang dilakukan oleh ilmuwan (untuk ilmu pengetahuan) dan filsuf (untuk filsafat). Kajian ilmu pengetahuan cenderung membahas hal yang spesifik, sementara filsafat memerlukan kajian yang sangat besar untuk dapat menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya dari suatu pertanyaan, sehingga informasi yang diberikan sangat luas dan cenderung abstrak.

Jika anda seorang ahli matematika, sejarawan, sosiolog ataupun psikolog, bidang keilmuan yang dipelajari sudah dapat dipastikan, dan cenderung sudah memiliki pengetahuan yang sangat kaya untuk digunakan sebagai landasan berpikir atau melakukan kajian lanjutan. Namun pada kajian filsafat, para filsuf tidak dapat menyatakan bahwa hasil studinya mencapai hasil yang positif seperti yang telah dicapai oleh ilmu-ilmu lainnya . Hal ini sebagian besar disebabkan oleh fakta bahwa pada bidang-bidang ilmu pengeatahuan memberikan hasil kajian yang relatif dapat dibuktikan kebenarannya.

Yang perlu diingat adalah sebelum suatu bidang ilmu pengetahuan resmi diakui menjadi suatu cabang ilmu pengetahuan tersendiri, dikenal sebagai bagian (cabang) dari filsafat. Sebagai contoh kajian tentang langit, yang sekarang menjadi bidang ilmu astronomi, pernah dimasukkan dalam filsafat. Karya besar Newton disebut sebagai 'prinsip-prinsip matematika dari filsafat alam' . Demikian pula kajian tentang pikiran manusia, yang merupakan bagian dari filsafat, kini telah dipisahkan dari filsafat dan telah menjadi Blog Psikologi . Dengan demikian , untuk sebagian besar, ketidakpastian filsafat lebih jelas daripada yang sebenarnya : pertanyaan-pertanyaan yang sudah mampu jawaban pasti ditempatkan dalam ilmu , sedangkan untuk yang pada saat ini tidak ada jawaban yang pasti dapat diberikan, tetap disebut sebagai filsafat.

2. Memuat ide-ide fundamental

Filsafat memuat ide-ide fundamental yang dapat meningkatkan kesadaran dalam tindakannya. Dengan demikian, manusia dapat lebih hidup dan lebih peka terhadap diri dan lingkungannya, serta lebih sadar hak dan kewajiban yang dimilikinya. Banyak filsuf, memang, telah menyatakan bahwa filsafat dapat membangun kebenaran, dimana jawaban tertentu dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar. Sebagai contoh, para filsuf menganggap bahwa apa yang paling penting dalam keyakinan keagamaan dapat dibuktikan dengan peragaan yang ketat untuk menjadi benar.

Dalam rangka untuk menilai upaya tersebut, perlu dilakukan suatu penelitian pengetahuan manusia, serta menghasilkan suatu penjelasan tentang metode dan keterbatasan penelitian yang dilakukan. Pada subjek tersebut tidak bijaksana untuk mengucapkan dogmatis, namun kita akan dipaksa untuk meninggalkan harapan untuk menemukan bukti filosofis keyakinan agama. Nilai filsafat tidak dapat bergantung pada bidang kajian yang dilakukan, namun seharusnya pengetahuan yang dihasilkan dipastikan akan dihasilkan oleh orang-orang yang mempelajarinya.

3. Sebagai sense of direction

Memberikan ilmu yang dapat memberikan pengarahan atau sense of direction untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga terhindar dari kehilangan pendirian, bingung dan skeptic. Filsafat pada kenyataannya dapat dijadikan sebagai dasar pegangan yang dicari sebagian besar orang dalam sangat ketidakpastiannya . Orang yang tidak memiliki nilai-nilai yang dihasilkan filsafat akan menjalani hidup dipenjara dalam prasangka yang berasal dari akal sehat, keyakinan, kebiasaan, usia, bangsanya, atau dari keyakinan yang telah tumbuh dalam pikirannya. Dengan demikian, orang seperti tesebut dia atas cenderung memiliki kehidupan yang serba terbatas

Sebaliknya, jika seseorang menggunakan filsafat sebagai dasar kehidupannya, akan menemukan jawaban lengkap untuk semua permasalahannya dari apa yang dialaminya sehari-hari. Meskipun tidak dapat memberitahu dengan pasti apa jawaban yang benar dari semua pertanyaan yang ada, filsafat mampu menunjukkan banyak kemungkinan yang dapat memperluas wawasan dan membebaskan seseorang dari kebiasaan-kebiasaan yang mengekang seseorang. Jadi, filsafat dapat mengurangi kebingungan akibat ketidakpastian,dan dapat menghilangkan dogmatis sehingga dapat ‘akrab’ terhadap sesuatu yang baru atau asing.

Terlepas dari kegunaannya dalam menunjukkan kemungkinan tak terduga , filsafat memiliki nilai - nilai utamanya dimana melalui kebesaran benda yang merenungkan, dan kebebasan yang menjadi tujuan yang dihasilkan dari kontemplasi ini . Kehidupan manusia secara naluriah diam dalam lingkaran kepentingan pribadinya. Keluarga dan teman-teman dapat diikutsertakan dalam pertimbangannya, namun dunia di luar dirinya tersebut tidak akan dianggap kecuali jika dapat membantu atau menghalangi apa yang diinginkan oleh pribadi tersebut . Filsafat akan berguna bagi manusia jika memperlihatkan kemajuan positif bagi manusia

Hubungan Filsafat Dengan Ilmu dan Agama

Filsafat, ilmu, dan agama mempunyai hubungan yang terkait dan reflektif dengan manusia yang baru dapat dirasakan manfaatnya lewat proses refleksi diri dengan menggunakan akal pikir, rasa dan keyakinan (tiga alat dan daya utama manusia) manusia mampu mencapai kebahagiaan

Ilmu didasarkan oleh akal pikiran lewat pengalaman dan indra; filsafat didasarkan oleh otoritas akal murni yang bebas dalam penyelidikan terhadap kenyataan dan pengalaman; agama didasarkan otoritas wahyu

Menurut Prof. Nasroen, S.H. seorang ahli filsafat di Indonesia, “filsafat sejati harus didasarkan pada agama”

Hubungan Filsafat Dengan Psikologi

Psikologi modern lahir tahun 1879 saat Wilheim Wundt mendirikan lab penelitian psikologi di Universitas Leipzig, Jerman, namun fokus kajiannya: mind and behavior sudah menjadi pokok kajian filsuf Yunani Kuno (Socrates, Plato, Aristoteles, dll) yang mengkaji tubuh dan jiwa serta hubungan antara keduanya

Daftar Pustaka

  1. Achmadi, A., 2012, Filsafat Umum, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
  2. Suhar, H. (2010). Filsafat Umum: Konsepsi, sejarah, dan aliran. Jakarta: Gaung Persada Press
  3. Warburton, N. 2004. Philosophy: Basic Readings.


Sekian artikel tentang Hubungan Filsafat Dengan Ilmu, Agama, dan Psikologi.

Posting Komentar untuk "Hubungan Filsafat Dengan Ilmu, Agama, dan Psikologi"

Klik gambar berikut untuk mengunduh artikel ini:

Berlangganan via Email